Thailand – Kamboja | 10 Desember 2025
Ketegangan bersenjata di perbatasan Thailand–Kamboja kembali memuncak dan memasuki hari ketiga. Bentrokan artileri, serangan udara, serta tembakan lintas batas menyebabkan lebih dari 500.000 warga mengungsi dan puluhan korban berjatuhan, termasuk warga sipil.
Menurut laporan internasional, kontak senjata terfokus di wilayah perbatasan yang telah lama disengketakan kedua negara. Serangan balasan antara militer Thailand dan Kamboja saling bereskalasi sejak akhir pekan lalu, memaksa ribuan keluarga meninggalkan rumah mereka menuju pos-pos pengungsian di sekolah, kuil, serta rumah publik.
Thailand dan Kamboja Saling Tuduh
Pemerintah Thailand menuduh pasukan Kamboja melakukan serangan terlebih dahulu ke desa-desa perbatasan, sementara Kamboja menyatakan bahwa Thailand memulai operasi pengeboman. Kedua negara sama-sama menyebut lawannya menargetkan permukiman penduduk—klaim yang sulit diverifikasi karena area tempur ditutup ketat oleh militer.
Serangan udara, mortir, dan tembakan artileri dilaporkan jatuh di beberapa titik desa. Infrastruktur akses jalan dan rumah-rumah warga mengalami kerusakan berat.
Korban Sipil Berjatuhan
Laporan awal menyebutkan adanya korban jiwa dari warga sipil di kedua negara. Ambulans dan tim medis darurat dikerahkan, meski akses menuju zona bentrokan sangat terbatas akibat tembakan sporadis yang terus berlangsung.
Sejumlah video pengungsi menunjukkan ribuan orang membawa barang seadanya, berjalan kaki melintasi perbatasan sambil mencari tempat aman.
SEA Games Terdampak, Tim Kamboja Ditarik Pulang
Dampak konflik meluas hingga ke sektor olahraga. Kamboja menarik seluruh atletnya yang sedang berada di Thailand untuk mengikuti Southeast Asian Games, menyebut “situasi keamanan tidak memungkinkan” bagi warganya berada di negara tersebut. Keputusan ini mendapat sorotan internasional karena belum pernah terjadi dalam sejarah penyelenggaraan pesta olahraga kawasan.
Upaya Diplomasi Mulai Bergerak
Komunitas internasional mulai mendesak kedua negara untuk menghentikan kekerasan. Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump menyatakan akan melakukan panggilan telepon langsung kepada pemimpin Thailand dan Kamboja untuk menekan tercapainya gencatan senjata. Negara-negara ASEAN juga disebut sedang menyiapkan langkah mediasi darurat.
Di sisi lain, analis menilai konflik ini merupakan eskalasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir dan berpotensi melebar jika tidak segera dikendalikan.
Gencatan Senjata Masih Belum Tercapai
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda jelas kapan pertempuran akan berhenti. Kedua negara telah mengerahkan tambahan pasukan ke perbatasan, sementara warga sipil terus berusaha melarikan diri dari area berbahaya.
Situasi di lapangan masih berkembang, dan pihak berwenang memperingatkan kemungkinan bentrokan lanjutan dalam beberapa jam ke depan.




0 komentar:
Posting Komentar